Friday, May 31, 2013

Ledalero: Suara Dari Bukit


Ledalero lebih sering dikenal sebagai "bukit" tempat "sandar matahari". Ya Karena Ledalero berasal dari bahasa Sikka "Leda" yang berarti "sandar" dan "lero" yang artinya "matahari". Ledalero juga dijuluki sebagai Matahari dari Timur. Tetapi, Ledalero juga adalah suatu paradoks bagi dunia ini.

75 Tahun setelah berdiri, Ledalero tidak lagi sebagai bukit angker yang ditakuti. Dari bukit kecil yang kini bagai sebuah kota kecil di malam hari, Ledalero adalah nama yang selalu dikenang para alumni di seluruh penjuru dunia. Ledalero adalah sejarah yang terus dipikul oleh mereka yang pernah mengais ilmu dan rasa cinta akan kebenaran di bukit ini.

Ledalero pernah menjadi dunia yang dilipat, saat beragam kulit dan bahasa merasa memiliki bukit ini. Ledalero adalah dunia yang membeku, saat perbedaan dihidupi sebagai kekuatan. Ledalero adalah dunia yang berhenti berputar ketika perbedaan menyatu sebagai unity in diversity.
Ledalero adalah sejarah yang mengandung Jenderal Ahmad Yani lima hari sebelum pahlawan tersebut berpulang. Ledalero adalah sejarah yang terus mengandung kisah baru. Ledalero adalah sejarah yang masih dan akan terus hidup.

Tetapi Ledalero bukan hanya sebuah bukit. Bukan pula hanya sebuah tempat sandaran matahari. Ledalero bukan hanya matahari dari timur. Ledalero adalah Suara. Ledalero harus menjadi suara dan tetap sebagai suara. Ia adalah suara dari bukit. Suara yang mengabarkan kebenaran. Suara yang harus meneriakan kebenaran. Maka dari Bukit, para penghuni Ledalero dituntut untuk menjadi suara yang mewartakan kebenaran, suara yang meneriakan kebenaran.

Ledalero Ad Multos Anos!!!!