Showing posts with label wamena. Show all posts
Showing posts with label wamena. Show all posts

Monday, January 23, 2017

Aibon dan Anak-Anak Putus Sekolah

Minggu 22 Januari siang kemarin, saya dikagetkan oleh suara-suara tak biasa dari samping rumah. Tepat di bedengan yang ditanami daun bawang, seorang anak berusia sekitar 10 tahun berbaring sementara dua temannya duduk di sampingnya. Entah karena siang itu sangat panas dan ada pohon advokat yang memberi kesejukan, ketiga anak itu kelihatan santai.

Setelah saya dekati, anak yang sedang berbaring di atas tanaman daun bawang itu ternyata sedang memegang botol bekas minuman dengan isi Lem Aibon. Teman satunya pun memegang botol serupa sambil sesekali menghirup aibon dari mulut botol itu. Satu temannya lagi hanya memandang keduanya tanpa botol di tangan.

Dari ketiga anak ini, hanya satu orang yang mengaku masih sekolah namun jarang masuk sekolah. Ketika ditanyakan, ketiganya dengan santai menjawab kalau malas ke sekolah lagi karena jarang ada guru yang masuk setiap hari. Rupanya kedua anak lainnya pun pernah sekolah namun berhenti.

Alasan serupa pernah saya dengar dari anak jalanan lainnya yang ada di sekitar jalan Irian Wamena. Beberapa mengakui bahwa mereka ke kota dan menghisap Aibon setelah kabur dari rumahnya di Kampung. Mereka terpaksa ke kota karena orangtuanya sering marah karena anak-anak jarang ke sekolah. Sementara, anak-anak ini enggan ke sekolah karena jarang ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentu saja alasan anak-anak ini patut dibuktikan lagi. Namun pengakuan mereka ini pun mesti menjadi catatan serius bagi pemerintah untuk menangani masalah pendidikan.

Anak lainnya mengakui bahwa dirinya ke kota karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Ada juga yang mengaku tidak bisa melanjutkan pendidikan karena orangtua tidak mampu.

Aibon, kini menjadi masalah serius bagi anak-anak di Kabupaten Jayawijaya. Perlu perhatian serius dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak ini sudah terlalu sering dikasari. Mereka pun disebut sebagai "Anak - anak Aibon". Tak jarang anak-anak ini dianggap kriminal, suka mencuri dan berbagai stigma megatif lainnya.

Ketika ditanyakan beberapa anak mengaku pernah mencuri barang seperti ban mobil. Namun mereka mengakui bahwa mereka mencuri karena dipaksa oleh orang-orang dewasa dari kelompok tertentu. Orang-orang yang menyuruhnya kelihatan sangat taat hukum, namun anak-anak ini dipandang sebagai kriminal.

Mereka hidup di jalanan tanpa pendidikan, tak ada jaminan kesehatan, tak ada jaminan keamanan. Mereka hidup dengan bayangan masa depan yang suram. Beralaskan lantai emperan pertokoan yang bukan miliknya, setiap malam mereka tidur di bawah kolong langit berselimutkan karung bekas untuk sekadar menghangatkan badan dari dinginnya Wamena. Sementara sebagian besar dana yang bisa digunakan untuk "fakir miskin dan anak terlantar" dikorupsi oleh mereka yang kelihatan saleh karena rajin berdoa, berpakaian bersih dan selalu mengawali pidato atau sambutan dengan memanggil nama Tuhan.

Aibon dan Anak-Anak Putus Sekolah

Minggu 22 Januari siang kemarin, saya dikagetkan oleh suara-suara tak biasa dari samping rumah. Tepat di bedengan yang ditanami daun bawang, seorang anak berusia sekitar 10 tahun berbaring sementara dua temannya duduk di sampingnya. Entah karena siang itu sangat panas dan ada pohon advokat yang memberi kesejukan, ketiga anak itu kelihatan santai.

Setelah saya dekati, anak yang sedang berbaring di atas tanaman daun bawang itu ternyata sedang memegang botol bekas minuman dengan isi Lem Aibon. Teman satunya pun memegang botol serupa sambil sesekali menghirup aibon dari mulut botol itu. Satu temannya lagi hanya memandang keduanya tanpa botol di tangan.

Dari ketiga anak ini, hanya satu orang yang mengaku masih sekolah namun jarang masuk sekolah. Ketika ditanyakan, ketiganya dengan santai menjawab kalau malas ke sekolah lagi karena jarang ada guru yang masuk setiap hari. Rupanya kedua anak lainnya pun pernah sekolah namun berhenti.

Alasan serupa pernah saya dengar dari anak jalanan lainnya yang ada di sekitar jalan Irian Wamena. Beberapa mengakui bahwa mereka ke kota dan menghisap Aibon setelah kabur dari rumahnya di Kampung. Mereka terpaksa ke kota karena orangtuanya sering marah karena anak-anak jarang ke sekolah. Sementara, anak-anak ini enggan ke sekolah karena jarang ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentu saja alasan anak-anak ini patut dibuktikan lagi. Namun pengakuan mereka ini pun mesti menjadi catatan serius bagi pemerintah untuk menangani masalah pendidikan.

Anak lainnya mengakui bahwa dirinya ke kota karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Ada juga yang mengaku tidak bisa melanjutkan pendidikan karena orangtua tidak mampu.

Aibon, kini menjadi masalah serius bagi anak-anak di Kabupaten Jayawijaya. Perlu perhatian serius dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak ini sudah terlalu sering dikasari. Mereka pun disebut sebagai "Anak - anak Aibon". Tak jarang anak-anak ini dianggap kriminal, suka mencuri dan berbagai stigma megatif lainnya.

Ketika ditanyakan beberapa anak mengaku pernah mencuri barang seperti ban mobil. Namun mereka mengakui bahwa mereka mencuri karena dipaksa oleh orang-orang dewasa dari kelompok tertentu. Orang-orang yang menyuruhnya kelihatan sangat taat hukum, namun anak-anak ini dipandang sebagai kriminal.

Mereka hidup di jalanan tanpa pendidikan, tak ada jaminan kesehatan, tak ada jaminan keamanan. Mereka hidup dengan bayangan masa depan yang suram. Beralaskan lantai emperan pertokoan yang bukan miliknya, setiap malam mereka tidur di bawah kolong langit berselimutkan karung bekas untuk sekadar menghangatkan badan dari dinginnya Wamena. Sementara sebagian besar dana yang bisa digunakan untuk "fakir miskin dan anak terlantar" dikorupsi oleh mereka yang kelihatan saleh karena rajin berdoa, berpakaian bersih dan selalu mengawali pidato atau sambutan dengan memanggil nama Tuhan.

Sunday, January 22, 2017

Aibon dan Anak-Anak Putus Sekolah

Minggu 22 Januari siang kemarin, saya dikagetkan oleh suara-suara tak biasa dari samping rumah. Tepat di bedengan yang ditanami daun bawang, seorang anak berusia sekitar 10 tahun berbaring sementara dua temannya duduk di sampingnya. Entah karena siang itu sangat panas dan ada pohon advokat yang memberi kesejukan, ketiga anak itu kelihatan santai.

Setelah saya dekati, anak yang sedang berbaring di atas tanaman daun bawang itu ternyata sedang memegang botol bekas minuman dengan isi Lem Aibon. Teman satunya pun memegang botol serupa sambil sesekali menghirup aibon dari mulut botol itu. Satu temannya lagi hanya memandang keduanya tanpa botol di tangan.

Dari ketiga anak ini, hanya satu orang yang mengaku masih sekolah namun jarang masuk sekolah. Ketika ditanyakan, ketiganya dengan santai menjawab kalau malas ke sekolah lagi karena jarang ada guru yang masuk setiap hari. Rupanya kedua anak lainnya pun pernah sekolah namun berhenti.

Alasan serupa pernah saya dengar dari anak jalanan lainnya yang ada di sekitar jalan Irian Wamena. Beberapa mengakui bahwa mereka ke kota dan menghisap Aibon setelah kabur dari rumahnya di Kampung. Mereka terpaksa ke kota karena orangtuanya sering marah karena anak-anak jarang ke sekolah. Sementara, anak-anak ini enggan ke sekolah karena jarang ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentu saja alasan anak-anak ini patut dibuktikan lagi. Namun pengakuan mereka ini pun mesti menjadi catatan serius bagi pemerintah untuk menangani masalah pendidikan.

Anak lainnya mengakui bahwa dirinya ke kota karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Ada juga yang mengaku tidak bisa melanjutkan pendidikan karena orangtua tidak mampu.

Aibon, kini menjadi masalah serius bagi anak-anak di Kabupaten Jayawijaya. Perlu perhatian serius dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak ini sudah terlalu sering dikasari. Mereka pun disebut sebagai "Anak - anak Aibon". Tak jarang anak-anak ini dianggap kriminal, suka mencuri dan berbagai stigma megatif lainnya.

Ketika ditanyakan beberapa anak mengaku pernah mencuri barang seperti ban mobil. Namun mereka mengakui bahwa mereka mencuri karena dipaksa oleh orang-orang dewasa dari kelompok tertentu. Orang-orang yang menyuruhnya kelihatan sangat taat hukum, namun anak-anak ini dipandang sebagai kriminal.

Mereka hidup di jalanan tanpa pendidikan, tak ada jaminan kesehatan, tak ada jaminan keamanan. Mereka hidup dengan bayangan masa depan yang suram. Beralaskan lantai emperan pertokoan yang bukan miliknya, setiap malam mereka tidur di bawah kolong langit berselimutkan karung bekas untuk sekadar menghangatkan badan dari dinginnya Wamena. Sementara sebagian besar dana yang bisa digunakan untuk "fakir miskin dan anak terlantar" dikorupsi oleh mereka yang kelihatan saleh karena rajin berdoa, berpakaian bersih dan selalu mengawali pidato atau sambutan dengan memanggil nama Tuhan.

Aibon dan Anak-Anak Putus Sekolah

Minggu 22 Januari siang kemarin, saya dikagetkan oleh suara-suara tak biasa dari samping rumah. Tepat di bedengan yang ditanami daun bawang, seorang anak berusia sekitar 10 tahun berbaring sementara dua temannya duduk di sampingnya. Entah karena siang itu sangat panas dan ada pohon advokat yang memberi kesejukan, ketiga anak itu kelihatan santai.

Setelah saya dekati, anak yang sedang berbaring di atas tanaman daun bawang itu ternyata sedang memegang botol bekas minuman dengan isi Lem Aibon. Teman satunya pun memegang botol serupa sambil sesekali menghirup aibon dari mulut botol itu. Satu temannya lagi hanya memandang keduanya tanpa botol di tangan.

Dari ketiga anak ini, hanya satu orang yang mengaku masih sekolah namun jarang masuk sekolah. Ketika ditanyakan, ketiganya dengan santai menjawab kalau malas ke sekolah lagi karena jarang ada guru yang masuk setiap hari. Rupanya kedua anak lainnya pun pernah sekolah namun berhenti.

Alasan serupa pernah saya dengar dari anak jalanan lainnya yang ada di sekitar jalan Irian Wamena. Beberapa mengakui bahwa mereka ke kota dan menghisap Aibon setelah kabur dari rumahnya di Kampung. Mereka terpaksa ke kota karena orangtuanya sering marah karena anak-anak jarang ke sekolah. Sementara, anak-anak ini enggan ke sekolah karena jarang ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentu saja alasan anak-anak ini patut dibuktikan lagi. Namun pengakuan mereka ini pun mesti menjadi catatan serius bagi pemerintah untuk menangani masalah pendidikan.

Anak lainnya mengakui bahwa dirinya ke kota karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Ada juga yang mengaku tidak bisa melanjutkan pendidikan karena orangtua tidak mampu.

Aibon, kini menjadi masalah serius bagi anak-anak di Kabupaten Jayawijaya. Perlu perhatian serius dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak ini sudah terlalu sering dikasari. Mereka pun disebut sebagai "Anak - anak Aibon". Tak jarang anak-anak ini dianggap kriminal, suka mencuri dan berbagai stigma megatif lainnya.

Ketika ditanyakan beberapa anak mengaku pernah mencuri barang seperti ban mobil. Namun mereka mengakui bahwa mereka mencuri karena dipaksa oleh orang-orang dewasa dari kelompok tertentu. Orang-orang yang menyuruhnya kelihatan sangat taat hukum, namun anak-anak ini dipandang sebagai kriminal.

Mereka hidup di jalanan tanpa pendidikan, tak ada jaminan kesehatan, tak ada jaminan keamanan. Mereka hidup dengan bayangan masa depan yang suram. Beralaskan lantai emperan pertokoan yang bukan miliknya, setiap malam mereka tidur di bawah kolong langit berselimutkan karung bekas untuk sekadar menghangatkan badan dari dinginnya Wamena. Sementara sebagian besar dana yang bisa digunakan untuk "fakir miskin dan anak terlantar" dikorupsi oleh mereka yang kelihatan saleh karena rajin berdoa, berpakaian bersih dan selalu mengawali pidato atau sambutan dengan memanggil nama Tuhan.

Thursday, January 12, 2017

Tentang Jakarta

"Indonesia bukan hanya Jakarta" demikian kata orang jika berbicara tentang Indonesia dalam wacana akhir-akhir ini. Kalimat seperti ini mencuat seiring dengan meningkatnya tensi politik di Jakarta menjelang Pilgub. Semua media selalu berbicara tentang Jakarta. Tentang kasus Ahok yang dituduh menista agama, tentang saksi sidang Ahok, atau tentang pasangan nomor urut 1 yang ingin bagi-bagi uang. Semuanya tentang Jakarta.

Belum lagi konsentrasi media pada FPI dan pimpinannya yang dilaporkan telah menghina Pancasila, atau kasus Makar yang menjerat Ahmad Dhani dkk. Sebelumnya media pun ramai dengan kasus kopi sianida. Berbulan-bulan media sibuk menayangkan proses hukum hingga persidangan kasus kopi. Semua media ramai bicara tentang Jakarta, tentang orang-orang di Jakarta, tentang kejahatan di Jakarta dan tentang kehebatan Jakarta.

Sementara wilayah lain Indonesia jarang diberitakan. Padahal saat yang sama banyak wilayah akan melakukan pilkada seperti Jakarta. Banyak juga kasus pembunuhan bahkan oleh aparat negara. Atau banyak juga orang yang dijerat kasus makar. Namun, Indonesia seperti hanya soal Jakarta dan wilayah lain tak ada nilainya di hadapan Jakarta. Nyawa orang di luar Jakarta pun tak ada nilainya. Semua yang terjadi di luar Jakarta tak terlalu penting jika tidak menguntungkan Jakarta. Karena itu, tuntutan pemilik hak tim ad hoc di Papua terkait kelebihan pajak Freeport sejak 1991 hingga kini agar dikembalikan ke Pemprov Papua tak diperdulikan berbagai pihak termasuk media. Sementara soal habisnya izin ekspor konsentrat pt Freeport justru ramai diperbincangkan.  Dalam aturan, negara menerima 25% pajak penghasilan, namun faktanya negara mengambil 35%. 10% kelebihannya itulah yang dituntut agar dikembalikan ke pemprov Papua. Tapi siapa yang peduli?

Selama merugikan kepentingan atau memperburuk citra Jakarta atau pemerintah pusat, semuanya akan diam. Namun jika pemberitaan kondisi luar Jakarta bisa menguntungkan Jakarta, media akan ramai mengangkatnya. Kini soal izin eksport konsentrat tersebut akan terus dibicarakan tak peduli berapa banyak orang Papua yang dibunuh karena izin tersebut akan memberikeuntungan bagi Jakarta. Malam nanti, beberapa stasiun TV akan menayangkan secara langsung debat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Tak lama setelah debat usai, media online akan ramai mengangkat berita dan analisis tentang debat tersebut. Daerah lain beserta manusia dalamnya akan kembali dilupakan.

Hari Rabu 11 Januari lalu, seorang pemuda bernama Edison Matuan dianiaya secara kejam oleh 5 orang oknum Polisi. Dia dianiaya bahkan ketika sedang dalam Rumah Sakit Umum Wamena. Secara sadis dia diseret ke dalam ruangan UGD, kepalanya dipukul dengan popor senjata lalu dibenturkan ke tembok hingga akhirnya meninggal dunia. Namun siapa peduli? Ini tak ada urusan dengan Jakarta, jadi jangan harap akan jadi perhatian. Semua media nasional sedang sibuk membahas tentang debat nanti malam. Indonesia memang tentang Jakarta.